<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962</id><updated>2012-02-17T00:49:57.924+07:00</updated><category term='Pendidikan'/><category term='Teknologi'/><category term='PBL'/><category term='Dunia Hukum'/><title type='text'>SUNDU Menjadi Manusia Pembelajar</title><subtitle type='html'>Blog ini berisi tentang apa saja yang saya pikirkan,saya lakukan, saya harapkan, saya perhatikan, dan apa yang seharusnya berubah, terutama dalam bidang pendidikan, komputer, musik, dan humaniora.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-7710760502886001880</id><published>2011-12-15T21:33:00.000+07:00</published><updated>2011-12-15T21:33:17.135+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PBL'/><title type='text'>Pembelajaran Berbasis Masalah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PLrVAUfvyCM/TuoFHcA0idI/AAAAAAAAAKQ/gqP_2LJ5mFw/s1600/gb2.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="197" width="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-PLrVAUfvyCM/TuoFHcA0idI/AAAAAAAAAKQ/gqP_2LJ5mFw/s200/gb2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Model pembelajaran berbasis masalah (Model Problem Based Learning) adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan ketrampilan yang lebih tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (menurut Arends dalam Abbas, 2000:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu turunan dari Contextual Teaching and Learning (CTL) berdasarkan pada model pembelajaran konstruktivistik dalam konsep pilsafat konstruktivisme. Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Berbasis Masalah atau Problem Based Learning adalah Suatu proses pembelajaran yang diawali dari masalah-masalah yang ditemukan dalam suatu lingkungan. Problem Based Learning (PBL) adalah lingkungan belajar yang di dalamnya menggunakan masalah untuk belajar. Yaitu, sebelum pembelajar mempelajari suatu hal, mereka diharuskan mengidentifikasi suatu masalah, baik yang dihadapi secara nyata maupun telaah kasus. Masalah diajukan sedemikian rupa sehingga para pebelajar menemukan kebutuhan belajar yang diperlukan agar mereka dapat memecahkan masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan pembelajaran ini akan memandu para pengguna/pebelajar mulai dari memahami konsep PBL, langkah-langkah PBL, sampai menerapkan metode PBL dalam team work di tempat kerja. Penerapan metode PBL ini merupakan suatu bentuk implementasi team learning dan personal mastery menuju suatu organisasi pembelajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model pembelajaran berbasis masalah, guru berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah dan pemberi fasilitas penelitian. Selain itu guru menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa. Pembelajaran berbasis masalah hanya dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan membimbing pertukaran gagasan. Pembelajaran berbasis masalah juga dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akivitas siswa, baik secara individual maupun secara kelompok. Pada model pembelajaran berbasis masalah guru berperan pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Ciri-ciri model pembelajaran Problem Based Learning&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pengembang pembelajaran berbasis masalah telah menunjukkkan ciri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;1) Pengajuan masalah atau pertanyaan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau ketrampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka dihadapkan situasi kehidupan nyata yang autentik , menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu. &lt;br /&gt;Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13), pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.Autentik. Yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu.&lt;br /&gt;b.Jelas. Yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.&lt;br /&gt;c.Mudah dipahami. Yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.&lt;br /&gt;d.Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang&lt;br /&gt;e.tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;f.Bermanfaat. Yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pengajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu, masalah yang akan diselidiki telah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;3) Penyelidikan autentik&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran berbasis masalah siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan. Metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang sedang dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;4) Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer (Ibrahim &amp; Nur, 2000:5-7 dalam Nurhadi, 2003:56)&lt;br /&gt;Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Tahapan pengajaran berbasis masalah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran berbasis masalah terdiri dari lima tahapan utama (menurut Nurhadi, 2003:58-59). Kelima tahapan itu dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa sebagaimana dalam tabel berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1 :  Tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Tingkah Laku Guru&lt;br /&gt;Tahap 1:&lt;br /&gt;Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelas-kan logistik yang dibutuhkan,memotivasi siswa agar terlibat pada pemecahan masalah yang dipilihnya.&lt;br /&gt;Tahap 2:&lt;br /&gt;Mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.&lt;br /&gt;Tahap 3:&lt;br /&gt;Membimbing penyelidikan&lt;br /&gt;individual dan kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya&lt;br /&gt;Tahap 4:&lt;br /&gt;Mengembagkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.&lt;br /&gt;Tahap 5:&lt;br /&gt;Menganalisis dan mengeva-luasi proses pemecahan masalah Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C.Penyelesaian Masalah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, relatif jarang ada guru yang masih ingat teori-teori pendidikan yang pernah dipelajari selama di perguruan tinggi. Bahkan saat masih kuliahpun, banyak mahasiswa yang tidak benar-benar paham benar teori-teori tersebut. &lt;br /&gt;Implementasinya sangat dibutuhkan guru, dimana guru TIK dituntut menguasai sejumlah kemampuan dan keterampilan, antara lain&lt;br /&gt;1. Menguasai berbagai variasi model pembelajaran&lt;br /&gt;2. Kemampuan menguasai bahan ajar&lt;br /&gt;3. Kemampuan dalam mengelola kelas&lt;br /&gt;4. Kemampuan dalam menggunakan metode, media, dan sumber belajar&lt;br /&gt;5. Kemampuan untuk melakukan penilaian baik proses maupun hasil&lt;br /&gt;Selanjutnya UNESCO dalam Soedijarto (2004 : 10-18) mencanangkan empat pilar belajar dalam pembelajaran (termasuk model Problem Based Learning) :&lt;br /&gt;1. Learning to Know ( penguasaan ways of knowing or mode of inquire)&lt;br /&gt;2. Learning to do ( controlling, monitoring, maintening, designing, organizing)&lt;br /&gt;3. Learning to live together&lt;br /&gt;4. Learning to be&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian analisis permasalahan diatas, pendekatan model Problem Based Learning apabila diterapkan di kelas akan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam memecahkan masalah-masalah dalam pembelajaran, yang selanjutnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-7710760502886001880?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/7710760502886001880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=7710760502886001880&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/7710760502886001880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/7710760502886001880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2011/12/pembelajaran-berbasis-masalah.html' title='Pembelajaran Berbasis Masalah'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-PLrVAUfvyCM/TuoFHcA0idI/AAAAAAAAAKQ/gqP_2LJ5mFw/s72-c/gb2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-7057801600576947742</id><published>2011-12-15T20:34:00.002+07:00</published><updated>2011-12-16T19:37:02.993+07:00</updated><title type='text'>Sudut Pandang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4a5hLekwjg4/TuoG3-nzqUI/AAAAAAAAAKo/nOZ3qLmo4lk/s1600/03.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="200" width="182" src="http://3.bp.blogspot.com/-4a5hLekwjg4/TuoG3-nzqUI/AAAAAAAAAKo/nOZ3qLmo4lk/s200/03.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pendidikan merupakan salah satu bagian yang penting dari proses pembangunan nasional, dan merupakan pula salah satu sumber penentu dalam perbaikan lingkungan hidup suatu negara pada umumnya dan suatu daerah pada khususnya. Pendidikan dipandang sebagai investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dimasa sekarang dan dimasa mendatang, dimana peningkatan kemampuan, keterampilan, kecakapan, dan kualitas suatu individu diyakini sebagai faktor yang mendukung sejauh mana manusia memiliki ukuran-ukuran tertentu dalam menjalani kehidupannya.Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka dapat dipahami apabila penyelenggara pendidikan perlu memperhatikan karakteristik, aspirasi, dan kebutuhan masyarakat terutama kebutuhan akan lingkungan hidup yang lebih baik dan memadai, dengan strategi yang tepat guna, dan memiliki kesadaran yang unggul, penyelenggara pendidikan hendaknya memberikan bekal dan respons kontekstual dalam melestarikan lingkungan hidup kepada setiap siswa yang sesuai dengan orientasi pembangunan daerah dan nasional serta perkembangan dunia secara global.Berdasarkan pemikiran-pemikiran dan asumsi-asumsi di atas, sebagai salah satu solusi dalam memanfaatkan, mengelola, dan melestarikan lingkungan hidup yang berorientasi pada pembangunan dan perkembangan dalam peningkatan sumber daya manusia adalah dengan adanya peningkatan kualitas kesadaran akan lingkungan hidup. Hal ini adalah sesuai dengan yang tersirat dan tersurat pada KTSP (Kurikulum 2006), yang mana pembelajaran yang dikembangkan harus berbasis kompetensi, berorientasi pada life skill, dan kontekstual.Sumber Daya Manusia merupakan suatu asset bagi suatu negara, sehingga pengelolaan serta pengembangannya memerlukan keseriusan dari semua pihak. Dan salah satu upaya pengembangan Sumber Daya Manusia adalah dari Sektor pendidikan yang berbudaya lingkungan hidup, karena tugas pendidikan adalah mengembangkan kualitas individu agar menjadi bangsa yang percaya diri dan memenuhi kehidupan global sebagai manusia yang berbudaya lingkungan.Karena pendidikan bukan hanya bertujuan untuk menghasilkan manusia yang pintar dan terdidik, tetapi yang lebih penting adalah manusia yang terdidik dan berbudaya (Educated and Civilized Human Being).&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-7057801600576947742?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/7057801600576947742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=7057801600576947742&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/7057801600576947742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/7057801600576947742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2011/12/sudut-pandang.html' title='Sudut Pandang'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4a5hLekwjg4/TuoG3-nzqUI/AAAAAAAAAKo/nOZ3qLmo4lk/s72-c/03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-6645639727655063036</id><published>2009-04-20T00:08:00.009+07:00</published><updated>2011-12-15T21:38:59.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pembelajaran Konstruktivistik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cWfKpZvrMfY/TuoGUKqKreI/AAAAAAAAAKc/ZwNP_uidKGI/s1600/gb3.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-cWfKpZvrMfY/TuoGUKqKreI/AAAAAAAAAKc/ZwNP_uidKGI/s200/gb3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sebagai orang tua atau calon orang tua, sudah saatnya memahami perubahan kurikulum sekolah yang semula mengacu pada model pembelajaran behavioristik, menjadi kurikulum baru yang mengacu pada model pembelajaran konstruktivistik. Model pembelajaran ini diyakini akan membuat proses belajar anak menjadi sangat menyenangkan sehingga mencapai hasil belajar yang diharapkan (selama ini pembelajaran dipersepsikan oleh anak sebagai suatu siksaan atau hal yang tidak menyenangkan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran Kontruksivistik berakar pada filsafat pragmatisme yang dikembangkan oleh John Dewey, yaitu filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman anak didik. Pembelajaran konstruktivistik merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan anak sebagai anggota keluarga dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pembelajaran ini, mengharapkan bahwa hasil pembelajaran lebih bermakna dan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan nyata anak didik, yaitu bekerja dan mengalami, bukan hanya transfer pengetahuan dari guru kepada anak didik tetapi strategi pembelajaran yang lebih dipentingkan dari pada hasil. Landasan filosofi kontruktivistik, yaitu belajar bukan hanya sekedar menghapal, namun anak dituntut untuk mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran kontruktivistik merupakan pembelajaran yang mengutamakan adanya sitat kerja sama antar anak yang tersusun dalam suatu tim atau kelompok belajar guna mencapai tujuan belajar secara bersama. Para anak didik belajar bersama dalam kelompok yang anggotanya dapat terdiri dari 4 sampai 5 orang. Kegiatan dalam kelompok tersebut diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang sudah dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dan rnendiskusikan tugas-tugas terstruktur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pembelajaran kontruktivistik untuk membangkitkan interaksi personal yang efektif di dalam kelompok melalui diskusi. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada anak, yakni mendengarkan penjelasan guru, mempelajarl materi pelajaran, berdiskusi, melaporkan, bertanya jawab dan memberikan kesimpulan materi yang telah didiskusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri Strategi Pembelajaran Kontruktivistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran kontruktivistik rnempunyai ciri-ciri: (1) ada saling ketergantungan yang positif antar anggota kelornpok; (2) ada pertanggungjawaban secara individu; (3) heteroginitas anggota kelompok; (4) berbagi kepemimpinan; (5) berbagi tanggung jawab (6)menekankan pada tugas dan kebersamaan; (7) membentuk keterampilan sosial; (8) guru mengamati interaksi belajar anak didik; (9) efektivitas belajar tergantung pada kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Johson dan Roger mengidentifikasikan ada 3 unsur dasar anak dapat berinteraksi satu dengan lainnya, yaitu dengan :&lt;br /&gt;(1) Bersaing untuk melihat siapa yang terbaik&lt;br /&gt;(2) Bekerja sendiri secara individu mencapai tujuan tanpa memperhatikan siswa lain&lt;br /&gt;(3) Bekerjasama dengan anak yang lain yang memiliki minat sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan Pembelajaran Kontruktivistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shepardson menyebutkan beberapa kelebihan model pembelajaran kontruktivistik sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Guru harus dapat menciptakan kondisi yang mampu memberikan kesempatan yang merata kepada masing-masing anak untuk memberikan pendapat, menyampaikan ringkasan, rnempertahankan pendapat, ataupun memberikan jalan keluar jika diskusi mengalami kemacetan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Guru harus selalu mengupayakan adanya interaksi antar anak yang berada dalam kelompok (student to student interaction). Dalam model ini tidak membenarkan guru membiarkan seorang anak terlalu mendominasi jalannya diskusi. Guru mempunyai kewajiban untuk mengendalikan jalannya pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Guru harus menciptakan interdepedensa positif di kalangan anak. artinya, masing¬-masing anak harus diupayakan terlibat dalam kegiatan belajar. Dengan cara rnemberikan giliran yang telah diatur sebelumnya. Guru dapat membuat anak memaksa dirinya ikut berperan dalam kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Guru perlu menjelaskan kepada kelompok bahwa masing-masing anak harus membiasakan diri mendengarkan dengan baik pendapat orang lain, dan harus belajar menerima pendapat orang lain jika pendapat orang lain itu lebih baik dari pendapatnya. Oleh karena itu, anak yang pandai dapat membantu teman lain untuk menyumbangkan pikirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Model pembelajaran ini menekankan pada pencapaian tujuan bersama (group process skill). Model ini mengajarkan kepada anak untuk saling memberi informasi, saling mengajar jika ada anggota kelompok yang belum mampu, dan saling menghargai pendapat anggotanya. Proses pencapaian kesepakatan kelompok ini dipraktikkan, ditumbuhkan, dan dipantau selama diskusi kelompok berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Anggota kelompok pembelajar dengan model ini tidak terlalu besar, yakni berkisar dari 4 sampai 5 orang, sehingga anggotanya dapat saling bertukar pikiran. Selain itu, guru juga mudah mengaswasi proses belajar yang menekankan pada kerja sama antar anak. Dalam kelompok kecil, anak dengan hambatan mental, pemalu, atau kurang berinisiatif, dapat meminta bantuan kepada anggota kelompok lainnya, atau secara kebetulan akan terdorong aktif dalarn proses belajar kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Kemampuan masing-masing anak diperhitungkan secara adil (individual accountability). Di dalam pembelajaran kontruktivistik ini, tidak ada peserta kelompok yang diperbolehkan berpendapat sesukanya. Masing-masing anggota akan menyampaikan pendapatnya secara bergiliran. Untuk itu tugas sebagai pemimpin kelompok, perumus hasil diskusi, atau sebagai penyampai hasil diskusi diatur oleh guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan membaca uraian di atas, kini paling tidak, para orang tua atau calon orang tua dapat lebih memahami konsep pendidikan yang sedang dijalani dan senantiasa dikembangkan serta berkembang di Indonesia, sehingga dapat terjalin suatu persepsi yang searah antara orang tua dan sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-6645639727655063036?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/6645639727655063036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=6645639727655063036&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/6645639727655063036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/6645639727655063036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2009/04/pembelajaran-konstruktivistik.html' title='Pembelajaran Konstruktivistik'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cWfKpZvrMfY/TuoGUKqKreI/AAAAAAAAAKc/ZwNP_uidKGI/s72-c/gb3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-209536696327839455</id><published>2009-04-01T09:43:00.003+07:00</published><updated>2011-12-15T21:49:17.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Hukum'/><title type='text'>Hukum Tata Negara</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-HYHGaqv-rWM/TuoI2RlYfEI/AAAAAAAAAK0/q_YkwJJRlOc/s1600/gb4.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="111" width="90" src="http://2.bp.blogspot.com/-HYHGaqv-rWM/TuoI2RlYfEI/AAAAAAAAAK0/q_YkwJJRlOc/s200/gb4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CSundu%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CUsers%5CSundu%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CSundu%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CSundu%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-language:EN-US;} span.msoIns  {mso-style-type:export-only;  mso-style-name:"";  text-decoration:underline;  text-underline:single;  color:teal;} span.msoDel  {mso-style-type:export-only;  mso-style-name:"";  text-decoration:line-through;  color:red;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Pada masa lalu, istilah “teori hukum tata negara” sangat jarang sekali terdengar, apalagi dibahas dalam perkuliahan maupun forum-forum ilmiah. Hukum Tata Negara yang dipelajari oleh mahasiswa adalah Hukum Tata Negara dalam arti sempit, atau Hukum Tata Negara Positif. Hal ini dipengaruhi oleh watak rejim orde baru yang berupaya mempertahankan tatanan ketatanegaraan pada saat itu yang memang menguntungkan penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Pemikiran Hukum Tata Negara baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi terhegemoni bahwa tatanan ketatanegaraan berdasarkan Hukum Tata Negara Positif pada saat itu adalah pelaksanaan dari Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Akibatnya, pembahasan sisi teoritis dari Hukum Tata Negara menjadi ditinggalkan, bahkan dikekang karena dipandang sebagai pikiran yang “anti kemapanan” dan dapat mengganggu stabilitas nasional.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Padahal dari sisi keilmuan, Hukum Tata Negara dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah &lt;i&gt;staatsrecht&lt;/i&gt; atau hukum negara (&lt;i&gt;state law)&lt;/i&gt; yang meliputi 2 pengertian, yaitu &lt;i&gt;staatsrecht in ruimere zin &lt;/i&gt;(dalam arti luas), dan &lt;i&gt;staatsrecht in engere zin&lt;/i&gt; (dalam arti sempit). &lt;i&gt;Staatsrecht in engere zin&lt;/i&gt; atau Hukum Tata Negara dalam arti sempit itulah yang biasanya disebut Hukum Tata Negara atau &lt;i&gt;Verfassungsrecht&lt;/i&gt; yang dapat dibedakan antara pengertian yang luas dan yang sempit. Hukum Tata Negara dalam arti luas (&lt;i&gt;in ruimere zin&lt;/i&gt;) mencakup Hukum Tata Negara (&lt;i&gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins cite="mailto:user"&gt;v&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;erfassungsrecht&lt;/i&gt;) dalam arti sempit dan Hukum Administrasi Negara (&lt;i&gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins cite="mailto:user"&gt;v&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;erwaltungsrecht&lt;/i&gt;).&lt;a name="_ednref1"&gt;&lt;/a&gt; Pada masa lalu, Prof. Dr. &lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins cite="mailto:user"&gt;Djokosoetono&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt; lebih menyukai penggunaan &lt;i&gt;verfassungslehre&lt;/i&gt; daripada &lt;i&gt;verfassungsrecht&lt;/i&gt;.&lt;a name="_ednref2"&gt;&lt;/a&gt; Istilah yang tepat untuk Hukum Tata Negara sebagai ilmu (&lt;i&gt;constitutional law&lt;/i&gt;) adalah &lt;i&gt;Verfassungslehre&lt;/i&gt; atau teori konstitusi. &lt;i&gt;Verfassungslehre&lt;/i&gt; inilah yang nantinya akan menjadi dasar untuk mempelajari &lt;i&gt;verfassungsrecht.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Di sisi lain, istilah “Hukum Tata Negara” identik dengan pengertian “Hukum Konstitusi” sebagai terjemahan dari &lt;i&gt;Constitutional Law&lt;/i&gt; (&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins cite="mailto:user"&gt;Inggris&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;), &lt;i&gt;Droit Constitutionnel&lt;/i&gt; (Perancis), &lt;i&gt;Diritto Constitutionale&lt;/i&gt; (Italia), atau &lt;i&gt;Verfassungsrecht&lt;/i&gt; (Jerman). Dari segi bahasa, &lt;i&gt;Constitutional Law&lt;/i&gt; memang biasa diterjemahkan menjadi “Hukum Konstitusi”. Namun, istilah “Hukum Tata Negara” jika diterjemahkan ke dalam bahasa &lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins cite="mailto:user"&gt;Inggris&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;, kata yang dipakai adalah &lt;i&gt;Constitutional Law&lt;/i&gt;.&lt;a name="_ednref3"&gt;&lt;/a&gt; Oleh karena itu, Hukum Tata Negara dapat dikatakan identik atau disebut sebagai istilah lain belaka dari &lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins cite="mailto:user"&gt;“&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;Hukum Konstitusi&lt;span class="msoDel"&gt;&lt;del&gt;.&lt;/del&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="msoIns"&gt;&lt;ins cite="mailto:user"&gt;”.&lt;/ins&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="_ednref4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;A. Reformasi Dan Perkembangan Teori Hukum Tata Negara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Teori Hukum Tata Negara mulai mendapat perhatian dan berkembang pesat pada saat bangsa Indonesia memasuki era reformasi. Salah satu arus utama dari era reformasi adalah gelombang demokratisasi. Demokrasi telah memberikan ruang terhadap tuntutan-tuntutan perubahan, baik tuntutan yang terkait dengan norma penyelenggaraan negara, kelembagaan negara, maupun hubungan antara negara dengan warga negara. Demokrasi pula yang memungkinkan adanya kebebasan dan otonomi akademis untuk mengkaji berbagai teori yang melahirkan pilihan-pilihan sistem dan struktur ketatanegaraan untuk mewadahi berbagai tuntutan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Tuntutan perubahan sistem perwakilan diikuti dengan munculnya perdebatan tentang sistem pemilihan umum (misalnya antara distrik atau proporsional, antara stelsel daftar terbuka dengan tertutup) dan struktur parlemen (misalnya masalah kamar-kamar parlemen dan keberadaan DPD). Tuntutan adanya hubungan pusat dan daerah yang lebih berkeadilan diikuti dengan kajian-kajian teoritis tentang bentuk negara hingga model-model penyelenggaraan otonomi daerah.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Tuntutan-tuntutan tersebut meliputi banyak aspek. Kerangka aturan dan kelembagaan yang ada menurut Hukum Tata Negara positif saat itu tidak lagi sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kehidupan masyarakat. Di sisi lain, berbagai kajian teoritis telah muncul dan memberikan alternatif kerangka aturan dan kelembagaan yang baru. Akibatnya, Hukum Tata Negara positif mengalami “deskralisasi”. Hal-hal yang semula tidak dapat dipertanyakan pun digugat. Kedudukan MPR sebagai lembaga tertinggi negara dipertanyakan. Demikian pula halnya dengan kekuasaan Presiden yang dipandang terlalu besar karena memegang kekuasaan pemerintahan dan kekuasaan membentuk UU. Berbagai tuntutan perubahan berujung pada tuntutan perubahan UUD 1945 yang telah lama disakralkan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;B. Perubahan UUD 1945&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Pembahasan tentang latar belakang perubahan UUD 1945 dan argumentasi perubahannya telah banyak dibahas diberbagai literatur, seperti buku Prof. Dr. Mahfud MD.&lt;a name="_ednref5"&gt;&lt;/a&gt;, Prof. Dr. Harun Alrasid&lt;a name="_ednref6"&gt;&lt;/a&gt;, dan Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani&lt;a name="_ednref7"&gt;&lt;/a&gt;. Perubahan-perubahan tersebut diatas meliputi hampir keseluruhan materi UUD 1945. Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, jika naskah asli UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan, maka setelah empat kali mengalami perubahan, materi muatan UUD 1945 mencakup 199 butir ketentuan. Bahkan hasil perubahan tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah konstitusi baru sama sekali dengan nama resmi “Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="_ednref8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Perubahan UUD 1945 yang dilakukan dalam empat kali perubahan tersebut telah mengakibatkan perubahan yang mendasar dalam Hukum Tata Negara Indonesia. Perubahan tersebut diantaranya meliputi (i) Perubahan norma-norma dasar dalam kehidupan bernegara, seperti penegasan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum dan kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar; (ii) Perubahan kelembagaan negara dengan adanya lembaga-lembaga baru dan hilangnya beberapa lembaga yang pernah ada; (iii) Perubahan hubungan antar lembaga negara; dan (iv) Masalah Hak Asasi Manusia. Perubahan-perubahan hasil &lt;i&gt;constitutional reform &lt;/i&gt;tersebut belum sepenuhnya dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan maupun praktek ketatanegaraan sehingga berbagai kerangka teoritis masih sangat diperlukan untuk mengembangkan dasar-dasar konstitusional tersebut. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;C. Keberadaan Mahkamah Konstitusi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Pembentukan MK merupakan penegasan prinsip negara hukum dan jaminan terhadap hak asasi manusia sebagaimana ditegaskan dalam UUD 1945. Pembentukan MK juga merupakan perwujudan dari konsep &lt;i&gt;checks and balances&lt;/i&gt; dalam sistem ketatanegaraan. Selain itu, pembentukan MK dimaksudkan sebagai sarana penyelesaian beberapa masalah ketatanegaraan yang sebelumnya tidak diatur sehingga menimbulkan ketidakpastian.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Berdasarkan Pasal 24 ayat (2) UUD 1945, MK adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman selain Mahkamah Agung. Kewenangan MK diatur dalam Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 yang meliputi memutus pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara, memutus pembubaran partai politik, dan menyelesaikan perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Selain itu, Pasal 24C ayat (3) menyatakan bahwa MK wajib memutus pendapat DPR atas dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Presiden dan atau Wakil Presiden. Selanjutnya keberadaan MK diatur berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Berdasarkan kewenangan yang dimiliki tersebut, maka MK berfungsi sebagai penjaga konstitusi (&lt;i&gt;the guardian of the constitution&lt;/i&gt;) agar dilaksanakan baik dalam bentuk undang-undang maupun dalam pelaksanaannya yang terkait dengan kewenangan dan kewajiban MK. Sebagai penjaga konstitusi, MK sekaligus berperan sebagai penafsir konstitusi (&lt;i&gt;the interpreter of the constitution&lt;/i&gt;). Fungsi sebagai penjaga dan penafsir konstitusi tersebut dilaksanakan melalui putusan-putusan MK sesuai dengan empat kewenangan dan satu kewajiban yang dimiliki. Dalam putusan-putusan MK selalu mengandung pertimbangan hukum dan argumentasi hukum bagaimana suatu ketentuan konstitusi harus ditafsirkan dan harus dilaksanakan baik dalam bentuk undang-undang, maupun dalam bentuk lain sesuai dengan kewenangan dan kewajiban yang dimiliki oleh MK.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Keberadaan MK sebagai penafsir dan penjaga konstitusi yang dilaksanakan melalui keempat kewenangan dan satu kewajibannya tersebut menempatkan UUD 1945 di satu sisi sebagai hukum tertinggi yang harus dilaksanakan secara konsisten, dan di sisi lain menjadikannya sebagai domain publik dan operasional. Persidangan di Mahkamah Konstitusi yang bersifat terbuka dan menghadirkan berbagai pihak untuk didengar keterangannya dengan sendirinya mendorong masyarakat untuk terlibat atau setidak-tidaknya mengetahui perkembangan pemikiran bagaimana suatu ketentuan konstitusi harus ditafsirkan. Bahkan pihak-pihak dalam persidangan juga dapat memberikan pemikirannya tentang penafsiran tersebut meskipun pada akhirnya tergantung pada penilaian dan pendapat para Hakim Konstitusi yang akan dituangkan dalam putusan-putusannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Dengan demikian, media utama yang memuat pelaksanaan peran dan fungsi Mahkamah Konstitusi sebagai penjaga dan penafsir tunggal konstitusi (&lt;i&gt;the guardian and the sole interpreter of the constitution&lt;/i&gt;) adalah putusan-putusan yang dibuat berdasarkan kewenangan dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan Pasal 24C ayat (1) dan (2) UUD 1945. Dengan kata lain, penafsiran ketentuan konstitusi dan perkembangannya dapat dipahami dalam putusan-putusan Mahkamah Konstitusi, tidak saja yang amarnya mengabulkan permohonan, tetapi juga yang ditolak atau tidak dapat diterima (&lt;i&gt;niet ontvankelijk verklaard&lt;/i&gt;). Karena itu, suatu putusan tidak seharusnya hanya dilihat dari amar putusan, tetapi juga sangat penting untuk memahami pertimbangan hukum (&lt;i&gt;ratio decidendi&lt;/i&gt;) yang pada prinsipnya memberikan penafsiran terhadap suatu ketentuan konstitusi terkait dengan permohonan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Putusan Mahkamah Konstitusi dengan sendirinya merupakan dokumen yang memuat penjelasan dan penafsiran ketentuan dalam konstitusi. Di sisi lain, putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan permohonan, khususnya dalam pengujian undang-undang, dengan sendirinya merubah suatu ketentuan norma hukum yang harus dilaksanakan oleh segenap organ negara dan dipatuhi oleh seluruh masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Keberadaan Mahkamah Konstitusi dengan fungsinya sebagai penjaga dan penafsir konstitusi tersebut telah menggairahkan perkembangan teori Hukum Tata Negara. Jika pada masa lalu masalah Hukum Tata Negara hanya berpusat pada aktivitas politik di lembaga perwakilan dan kepresidenan, serta pokok bahasannya hanya masalah lembaga negara, hubungan antar lembaga negara dan hak asasi manusia, maka saat ini isu-isu konstitusi mulai merambah pada berbagai aspek kehidupan yang lebih luas dan melibatkan banyak pihak, bahkan tidak saja ahli hukum.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Mengingat UUD 1945 tidak hanya merupakan konstitusi politik, tetapi juga konstitusi ekonomi dan sosial budaya, maka perdebatan teoritis konstitusional juga banyak terjadi di bidang ekonomi dan sosial budaya. Hal ini misalnya dapat dilihat dari beberapa putusan MK terkait dengan bidang ekonomi seperti dalam pengujian UU Ketenagalistrikan, UU SDA, dan UU Kepailitan. Di bidang sosial budaya misalnya dapat dilihat dari putusan-putusan pengujian UU Sistem Jaminan Sosial Nasional dan pengujian UU Sisdiknas.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Perkembangan pelaksanaan kewenangan Mahkamah Konstitusi tersebut telah mendorong berkembangnya studi-studi teori Hukum Tata Negara. Beberapa teori yang saat ini mulai berkembang dan dibutuhkan misalnya adalah teori-teori norma hukum, teori-teori penafsiran, teori-teori kelembagaan negara, teori-teori demokrasi, teori-teori politik ekonomi, dan teori-teori hak asasi manusia. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Teori-teori norma hukum diperlukan misalnya untuk membedakan antara norma yang bersifat abstrak umum dengan norma yang bersifat konkret individual yang menentukan bagaimana mekanisme pengujiannya. Pembahasan teori-teori norma hukum juga diperlukan untuk menyusun hierarki peraturan perundang-undangan sehingga pembangunan sistem hukum nasional dapat dilakukan sesuai dengan kerangka konstitusional. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Teori-teori selanjutnya yang mulai mendapat perhatian dan tumbuh berkembang adalah teori penafsiran. Dalam hukum sesungguhnya penafsiran menempati kedudukan yang sentral karena aktivitas hukum “berkutat” dengan norma-norma dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang akan diterapkan (&lt;i&gt;imputation&lt;/i&gt;) ke dalam suatu peristiwa nyata. Penafsiran menjadi semakin penting pada saat suatu norma konstitusi harus dipahami untuk menentukan norma yang lain bertentangan atau tidak dengan norma yang pertama. Kedua norma tersebut harus benar-benar dipahami mulai dari latar belakang, maksud, hingga penafsiran ke depan pada saat akan dilaksanakan. Untuk itu saat ini telah banyak berkembang studi hukum dengan menggunakan alat bantu ilmu penafsiran bahasa (&lt;i&gt;hermeunetik&lt;/i&gt;). Demikian pula teori-teori lain yang juga berkembang cukup pesat.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;D. Teori Hans Kelsen Tentang Hukum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Salah satu teori yang penting di bidang Hukum Tata Negara adalah teori hukum yang dikemukakan oleh Hans Kelsen. Banyak yang berpendapat bahwa secara teoritis keberadaan Mahkamah Konstitusi diperkenalkan oleh Hans Kelsen. Hans Kelsen menyatakan bahwa pelaksanaan aturan konstitusional tentang legislasi hanya dapat dijamin secara efektif jika terdapat suatu organ selain badan legislatif yang diberikan tugas untuk menguji konstitusionalitas suatu produk hukum. Untuk itu dapat diadakan organ khusus seperti pengadilan khusus yang disebut mahkamah konstitusi &lt;i&gt;(constitutional court). &lt;/i&gt;Organ ini khusus yang mengontrol tersebut dapat menghapuskan secara keseluruhan undang-undang yang tidak konstitusional sehingga tidak dapat diberlakukan oleh organ lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="_ednref9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Pemikiran Kelsen tersebut mendorong dibentuknya suatu lembaga yang diberi nama &lt;i&gt;“Verfassungsgerichtshoft” &lt;/i&gt;atau Mahkamah Konstitusi &lt;i&gt;(Constitutional Court)&lt;/i&gt; yang berdiri sendiri di luar Mahkamah Agung, sehingga model ini sering disebut sebagai &lt;i&gt;“The Kelsenian Model&lt;a name="_ednref10"&gt;&lt;/a&gt;”&lt;/i&gt;. Hal dirumuskan ketika Kelsen menjadi anggota lembaga pembaharu Konstitusi Austria &lt;i&gt;(Chancelery)&lt;/i&gt; pada 1919 – 1920 dan diterima menjadi Konstitusi Tahun 1920. Model ini menyangkut hubungan antara prinsip supremasi konstitusi &lt;i&gt;(the principle of the supremacy of the Constitution)&lt;/i&gt; dan prinsip supremasi parlemen &lt;i&gt;(the principle of the supremacy of the Parliament)&lt;/i&gt;. Mahkamah konstitusi ini melakukan pengujian baik terhadap norma-norma yang bersifat abstrak &lt;i&gt;(abstract review) &lt;/i&gt;dan juga memungkinkan pengujian terhadap norma kongkrit &lt;i&gt;(concrete review)&lt;/i&gt;. Pengujian biasanya dilakukan secara &lt;i&gt;“a posteriori”&lt;/i&gt;, meskipun tidak menutup kemungkinan dilakukan pengujian &lt;i&gt;“a priori”&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="_ednref11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Pemikiran Hans Kelsen meliputi tiga masalah utama, yaitu tentang teori hukum, negara, dan hukum internasional. Ketiga masalah tersebut sesungguhnya tidak dapat dipisahkan karena saling terkait dan dikembangkan secara konsisten berdasarkan logika hukum secara formal. Logika formal ini telah lama dikembangkan dan menjadi karakteristik utama filsafat Neo-Kantian yang kemudian berkembang menjadi aliran strukturalisme&lt;a name="_ednref12"&gt;&lt;/a&gt;. Teori umum tentang hukum yang dikembangkan oleh Kelsen meliputi dua aspek penting, yaitu aspek statis &lt;i&gt;(nomostatics) &lt;/i&gt;yang melihat perbuatan yang diatur oleh hukum, dan aspek dinamis &lt;i&gt;(nomodinamic) &lt;/i&gt;yang melihat hukum yang mengatur perbuatan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Friedmann mengungkapkan dasar-dasar esensial dari pemikiran Kelsen sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="_ednref13"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.05pt; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;1. Tujuan teori hukum, seperti tiap ilmu pengetahuan, adalah untuk mengurangi kekacauan dan kemajemukan menjadi kesatuan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.05pt; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;2. Teori hukum adalah ilmu pengetahuan mengenai hukum yang berlaku, bukan mengenai hukum yang seharusnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.05pt; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;3. Hukum adalah ilmu pengetahuan normatif, bukan ilmu alam.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.05pt; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;4. Teori hukum sebagai teori tentang norma-norma, tidak ada hubungannya dengan daya kerja norma-norma hukum.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0.0001pt 28.05pt; text-indent: -0.25in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;5. Teori hukum adalah formal, suatu teori tentang cara menata, mengubah isi dengan cara yang khusus. Hubungan antara teori hukum dan sistem yang khas dari hukum positif ialah hubungan apa yang mungkin dengan hukum yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Pendekatan tersebut yang kemudian disebut dengan &lt;i&gt;“The Pure Theory of Law” &lt;/i&gt;telah mendapatkan tempat tersendiri karena berbeda dengan dua kutub pendekatan lain, yaitu antara mahzab hukum alam dengan positivisme empiris. Beberapa ahli menyebut pemikiran Kelsen sebagai “jalan tengah” dari dua aliran hukum yang telah ada sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Empirisme hukum melihat hukum dapat direduksi sebagai fakta sosial. Sedangkan Kelsen berpendapat bahwa interpretasi hukum berhubungan dengan norma yang non-empiris. Norma tersebut memiliki struktur yang membatasi interpretasi hukum. Di sisi lain, berbeda dengan mahzab hukum alam, Kelsen berpendapat bahwa hukum tidak dibatasi oleh pertimbangan moral.&lt;a name="_ednref14"&gt;&lt;/a&gt; Tesis yang dikembangkan oleh kaum empiris disebut dengan &lt;i&gt;the reductive thesis&lt;/i&gt;, dan antitesisnya yang dikembangkan oleh mahzab hukum alam disebut dengan &lt;i&gt;normativity thesis&lt;/i&gt;. Stanley L. Paulson membuat skema berikut ini untuk menggambarkan posisi Kelsen diantara kedua tesis tersebut terkait dengan hubungan hukum dengan fakta dan moral&lt;a name="_ednref15"&gt;&lt;/a&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;table class="MsoNormalTable" style="margin-left: 0px; border-collapse: collapse; text-align: left; margin-right: 0px; font-family: arial;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; width: 95.2pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;    &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;    &lt;v:formulas&gt;     &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;     &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;    &lt;/v:formulas&gt;    &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;    &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt;   &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:96pt;"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Law and Fact&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Law and Moraity&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: inset inset inset none; padding: 0in 5.4pt; width: 99.9pt;" valign="top" width="133"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;normativity thesis&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;(separability of law&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;and fact)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: inset inset inset none; padding: 0in 5.4pt; width: 104.9pt;" valign="top" width="140"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;reductive thesis&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;(inseparability of law and   fact)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none inset inset; padding: 0in 5.4pt; width: 95.2pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Morality thesis&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;(inseparability of law and   morality)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none inset inset none; padding: 0in 5.4pt; width: 99.9pt;" valign="top" width="133"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Natural law theory&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none inset inset none; padding: 0in 5.4pt; width: 104.9pt;" valign="top" width="140"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none inset inset; padding: 0in 5.4pt; width: 95.2pt;" valign="top" width="127"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Separability thesis&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;(separability of law and   morality)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none inset inset none; padding: 0in 5.4pt; width: 99.9pt;" valign="top" width="133"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Kelsen’s Pure Theory of Law&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none inset inset none; padding: 0in 5.4pt; width: 104.9pt;" valign="top" width="140"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Empirico-positivist theory   of law&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 0.5in; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Kolom vertikal menunjukkan hubungan antara hukum dengan moralitas sedangkan baris horisontal menunjukkan hubungan antara hukum dan fakta. Tesis utama hukum alam adalah &lt;i&gt;morality thesis &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;normativity thesis&lt;/i&gt;, sedangkan &lt;i&gt;empirico positivist &lt;/i&gt;adalah &lt;i&gt;separability thesis &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;reductive thesis&lt;/i&gt;. Teori Kelsen adalah pada tesis &lt;i&gt;separability thesis &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;normativity thesis&lt;/i&gt;, yang berarti pemisahan antara hukum dan moralitas dan juga pemisahan antara hukum dan fakta. Sedangkan kolom yang kosong tidak terisi karena jika diisi akan menghasilkan sesuatu yang kontradiktif, sebab tidak mungkin memegang &lt;i&gt;reductive thesis &lt;/i&gt;bersama-sama dengan &lt;i&gt;morality thesis&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="_ednref16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="EN-US"&gt;Teori yang dikembangkan oleh Kelsen sesungguhnya dihasilkan dari analisis perbandingan sistem hukum positif yang berbeda-beda, membentuk konsep dasar yang dapat menggambarkan suatu komunitas hukum secara utuh. Masalah utama &lt;i&gt;(subject matter)&lt;/i&gt; dalam teori umum adalah norma hukum &lt;i&gt;(legal norm)&lt;/i&gt;, elemen-elemennya, hubungannya, tata hukum sebagai suatu kesatuan, strukturnya, hubungan antara tata hukum tata hukum yang berbeda, dan akhirnya, kesatuan hukum di dalam tata hukum positif yang plural.&lt;i&gt; The pure theory of law &lt;/i&gt;menekankan pada pembedaan yang jelas antara hukum empiris dan keadilan transendental dengan mengeluarkannya dari lingkup kajian hukum. Hukum bukan merupakan manifestasi dari otoritas super-&lt;i&gt;human&lt;/i&gt;, tetapi merupakan suatu teknik sosial yang spesifik berdasarkan pengalaman manusia. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:85%;" &gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;The pure theory of law &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"   lang="EN-US"&gt;menolak menjadi kajian metafisis tentang hukum. Teori ini mencari dasar-dasar hukum sebagai landasan validitas, tidak pada prinsip-prinsip meta-juridis, tetapi melalui suatu hipotesis juridis, yaitu suatu norma dasar, yang dibangun dengan analisis logis berdasarkan cara berpikir yuristik aktual. &lt;i&gt;The pure theory of law &lt;/i&gt;berbeda dengan &lt;i&gt;analytical jurisprudence &lt;/i&gt;dalam hal &lt;i&gt;the pure theory of law &lt;/i&gt;lebih konsisten menggunakan metodenya terkait dengan masalah konsep-konsep dasar, norma hukum, hak hukum, kewajiban hukum, dan hubungan antara negara dan hukum.&lt;/span&gt;&lt;a name="_ednref17"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-209536696327839455?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/209536696327839455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=209536696327839455&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/209536696327839455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/209536696327839455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2009/04/hukum-tata-negara.html' title='Hukum Tata Negara'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-HYHGaqv-rWM/TuoI2RlYfEI/AAAAAAAAAK0/q_YkwJJRlOc/s72-c/gb4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-519979082236247557</id><published>2009-03-28T14:21:00.008+07:00</published><updated>2011-12-15T21:50:33.118+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Hukum'/><title type='text'>Mengenal Ilmu Hukum</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UvuNfT0_tAo/TuoJJzZqWBI/AAAAAAAAALA/Gu7deXuOt1o/s1600/timbangan-300x270.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="180" width="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-UvuNfT0_tAo/TuoJJzZqWBI/AAAAAAAAALA/Gu7deXuOt1o/s200/timbangan-300x270.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5CSundu%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CUsers%5CSundu%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;title&gt;HUKUM KONSTITUSI&lt;/title&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:documentproperties&gt;   &lt;o:author&gt;user&lt;/o:Author&gt;   &lt;o:version&gt;12.00&lt;/o:Version&gt;  &lt;/o:DocumentProperties&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5CSundu%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5CSundu%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Body Text Indent"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Body Text Indent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Body Text Indent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Wingdings;  panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:2;  mso-generic-font-family:auto;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Cambria;  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-language:EN-US;} h1  {mso-style-priority:9;  mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-link:"Heading 1 Char";  mso-style-next:Normal;  margin-top:12.0pt;  margin-right:0in;  margin-bottom:3.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:1;  font-size:16.0pt;  font-family:"Cambria","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-font-kerning:16.0pt;  mso-fareast-language:EN-US;  font-weight:bold;} h2  {mso-style-priority:9;  mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-link:"Heading 2 Char";  mso-margin-top-alt:auto;  margin-right:0in;  mso-margin-bottom-alt:auto;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  mso-outline-level:2;  font-size:18.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  font-weight:bold;} h3  {mso-style-priority:9;  mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-link:"Heading 3 Char";  mso-margin-top-alt:auto;  margin-right:0in;  mso-margin-bottom-alt:auto;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  mso-outline-level:3;  font-size:13.5pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  font-weight:bold;} a:link, span.MsoHyperlink  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  color:blue;  text-decoration:underline;  text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  color:purple;  mso-themecolor:followedhyperlink;  text-decoration:underline;  text-underline:single;} p  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-margin-top-alt:auto;  margin-right:0in;  mso-margin-bottom-alt:auto;  margin-left:0in;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.Heading1Char  {mso-style-name:"Heading 1 Char";  mso-style-priority:9;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Heading 1";  mso-ansi-font-size:16.0pt;  mso-bidi-font-size:16.0pt;  font-family:"Cambria","serif";  mso-ascii-font-family:Cambria;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-hansi-font-family:Cambria;  mso-font-kerning:16.0pt;  mso-fareast-language:EN-US;  font-weight:bold;} span.Heading2Char  {mso-style-name:"Heading 2 Char";  mso-style-priority:9;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Heading 2";  mso-ansi-font-size:18.0pt;  mso-bidi-font-size:18.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-ascii-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-hansi-font-family:"Times New Roman";  font-weight:bold;} span.Heading3Char  {mso-style-name:"Heading 3 Char";  mso-style-priority:9;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Heading 3";  mso-ansi-font-size:13.5pt;  mso-bidi-font-size:13.5pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-ascii-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-hansi-font-family:"Times New Roman";  font-weight:bold;} span.mw-headline  {mso-style-name:mw-headline;  mso-style-unhide:no;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0  {mso-list-id:542639470;  mso-list-template-ids:-161299494;} @list l0:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  font-family:Symbol;} @list l0:level2  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1  {mso-list-id:979264828;  mso-list-template-ids:-461323152;} @list l1:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  font-family:Symbol;} @list l2  {mso-list-id:1126047752;  mso-list-template-ids:-74428894;} @list l2:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l3  {mso-list-id:1228882095;  mso-list-template-ids:1363956514;} @list l3:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  font-family:Symbol;} @list l4  {mso-list-id:1764839046;  mso-list-template-ids:1165517202;} @list l4:level1  {mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;} @list l5  {mso-list-id:2025398912;  mso-list-template-ids:1819848452;} @list l5:level1  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:;  mso-level-tab-stop:.5in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  font-family:Symbol;} @list l5:level2  {mso-level-number-format:bullet;  mso-level-text:o;  mso-level-tab-stop:1.0in;  mso-level-number-position:left;  text-indent:-.25in;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  font-family:"Courier New";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} ol  {margin-bottom:0in;} ul  {margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;Pengertian Hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt; atau &lt;b&gt;ilmu hukum&lt;/b&gt; adalah suatu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem" title="Sistem"&gt;sistem&lt;/a&gt; aturan atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adat" title="Adat"&gt;adat&lt;/a&gt;, yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintah" title="Pemerintah"&gt;pemerintah&lt;/a&gt; atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum. &lt;sup&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum#cite_note-0" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="" border="0" cellpadding="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Bidang hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum dapat dibagi dalam berbagai bidang, antara lain hukum perdata, hukum publik, hukum pidana, hukum acara, hukum tata negara, hukum internasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Hukum_perdata"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum perdata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Salah satu bidang hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara individu-individu dalam masyarakat dengan saluran tertentu. Hukum perdata disebut juga hukum privat atau hukum sipil. Salah satu contoh hukum perdata dalam masyarakat adalah jual beli rumah atau kendaraan .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum perdata dapat digolongkan antara lain menjadi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hukum_keluarga&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Hukum keluarga (halaman belum tersedia)"&gt;Hukum keluarga&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hukum_harta_kekayaan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Hukum harta kekayaan (halaman belum tersedia)"&gt;Hukum harta kekayaan&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hukum_benda&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Hukum benda (halaman belum tersedia)"&gt;Hukum benda&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hukum_Perikatan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Hukum Perikatan (halaman belum tersedia)"&gt;Hukum Perikatan&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Waris" title="Hukum Waris"&gt;Hukum      Waris&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Hukum_publik"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum publik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara subjek hukum dengan pemerintah.atau Hukum publik adalah hukum yang mengatur kepentingan masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Hukum_pidana"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum pidana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan berakibat diterapkannya hukuman bagi barang siapa yang melakukannya dan memenuhi unsur-unsur perbuatan yang disebutkan dalam undang-undang pidana. Seperti perbuatan yang dilarang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Korupsi, Undang-Undang HAM dan sebagainya Dalam hukum pidana dikenal, 2 jenis perbuatan yaitu kejahatan dan pelanggaran, kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi juga bertentangan dengan nilai moral, nilai agama dan rasa keadilan masyarakat, contohnya mencuri, membunuh, berzina, memperkosa dan sebagainya. sedangkan pelanggaran ialah perbuatan yang hanya dilarang oleh undang-undang, seperti tidak pakai helem, tidak menggunakan sabuk pengaman dalam berkendaraan, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Hukum_acara"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum acara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Untuk tegaknya hukum materiil diperlukan hukum acara atau sering juga disebut hukum formil. Hukum acara merupakan ketentuan yang mengatur bagaimana cara agar hukum (materiil) itu terwujud atau dapat diterapkan/dilaksanakan kepada subyek yang memenuhi perbuatannya . Tanpa hukum acara maka tidak ada manfaat hukum materiil. Untuk menegakkan ketentuan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_pidana" title="Hukum pidana"&gt;hukum pidana&lt;/a&gt; diperlukan hukum acara pidana, untuk &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_perdata" title="Hukum perdata"&gt;hukum perdata&lt;/a&gt; maka ada hukum acara perdata. Hukum acara ini harus dikuasai para praktisi hukum, polisi, jaksa, pengacara, hakim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;tegaknya supremasi hukum itu harus dimulai dari penegak hukum itu sendiri. yang paling utama itu adalah bermula dari pejabat yang paling tingi yaitu mahkamah agung ( [MA] )harus benar-benar melaksanakan hukum materil itu dengan tegas. baru akan terlaksana hukum yang sebenarnya dikalangan bawahannya. (w2n_11)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Hukum_internasional"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum internasional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum yang mengatur tentang hubungan hukum antar negara satu dengan negara lain secara internasional, yang mengandung dua pengertian dalam arti sempit dan luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dalam arti sempit      meliputi : Hukum publik internasional saja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dalam arti luas meliputi :      Hukum publik internasional dan hukum perdata internasional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Sistem_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Artikel utama untuk bagian ini adalah: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_hukum_di_dunia" title="Sistem hukum di dunia"&gt;Sistem hukum di dunia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Ada berbagai jenis sistem hukum yang berbeda yang dianut oleh negara-negara di dunia pada saat ini, antara lain sistem hukum Eropa Kontinental, sistem hukum Anglo-Saxon, sistem hukum adat, sistem hukum agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Sistem_hukum_Eropa_Kontinental"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem hukum Eropa Kontinental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem hukum Eropa Kontinental adalah suatu sistem hukum dengan ciri-ciri adanya berbagai ketentuan-ketentuan hukum dikodifikasi (dihimpun) secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya. Hampir 60% dari populasi dunia tinggal di negara yang menganut sistem hukum ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Sistem_hukum_Anglo-Saxon"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem hukum Anglo-Saxon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anglo-Saxon" title="en:Anglo-Saxon"&gt;Anglo-Saxon&lt;/a&gt; adalah suatu sistem hukum yang didasarkan pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yurisprudensi" title="Yurisprudensi"&gt;yurisprudensi&lt;/a&gt;, yaitu keputusan-keputusan hakim terdahulu yang kemudian menjadi dasar putusan hakim-hakim selanjutnya. Sistem hukum ini diterapkan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Irlandia" title="Irlandia"&gt;Irlandia&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris" title="Inggris"&gt;Inggris&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Australia" title="Australia"&gt;Australia&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Selandia_Baru" title="Selandia Baru"&gt;Selandia Baru&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika_Selatan" title="Afrika Selatan"&gt;Afrika Selatan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanada" title="Kanada"&gt;Kanada&lt;/a&gt; (kecuali Provinsi Quebec) dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt; (walaupun negara bagian Louisiana mempergunakan sistem hukum ini bersamaan dengan sistim hukum Eropa Kontinental Napoleon). Selain negara-negara tersebut, beberapa negara lain juga menerapkan sistem hukum Anglo-Saxon campuran, misalnya Pakistan, India dan Nigeria yang menerapkan sebagian besar sistem hukum Anglo-Saxon, namun juga memberlakukan hukum adat dan hukum agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem hukum anglo saxon, sebenarnya penerapannya lebih mudah terutama pada masyarakat pada negara-negara berkembang karena sesuai dengan perkembangan zaman.Pendapat para ahli dan prakitisi hukum lebih menonjol digunakan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hakim" title="Hakim"&gt;hakim&lt;/a&gt;, dalam memutus perkara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Sistem_hukum_adat.2Fkebiasaan"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem hukum adat/kebiasaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Adat" title="Hukum Adat"&gt;Hukum Adat&lt;/a&gt; adalah adalah seperangkat norma dan aturan adat/kebiasaan yang berlaku di suatu wilayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Sistem_hukum_agama"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem hukum agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistem hukum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama" title="Agama"&gt;agama&lt;/a&gt; adalah sistem hukum yang berdasarkan ketentuan agama tertentu. Sistem hukum agama biasanya terdapat dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Suci" title="Kitab Suci"&gt;Kitab Suci&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Teori_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;a name="Sejarah_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Milkau_Oberer_Teil_der_Stele_mit_dem_Text_von_Hammurapis_Gesetzescode_369-2.jpg" title="Raja Hammurabi memperoleh wahyu aturan-aturan hukum dari Tuhan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" title="&amp;quot;Raja Hammurabi memperoleh wahyu aturan-aturan hukum dari Tuhan&amp;quot;" style="'width:135pt;height:183.75pt'" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\Users\Sundu\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/55/Milkau_Oberer_Teil_der_Stele_mit_dem_Text_von_Hammurapis_Gesetzescode_369-2.jpg/180px-Milkau_Oberer_Teil_der_Stele_mit_dem_Text_von_Hammurapis_Gesetzescode_369-2.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sejarah hukum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sejarah Hukum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt; adalah bidang studi tentang bagaimana hukum berkembang dan apa yang menyebabkan perubahannya. Sejarah hukum erat terkait dengan perkembangan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban" title="Peradaban"&gt;peradaban&lt;/a&gt; dan ditempatkan dalam konteks yang lebih luas dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah_sosial&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Sejarah sosial (halaman belum tersedia)"&gt;sejarah sosial&lt;/a&gt;. Di antara sejumlah ahli hukum dan pakar sejarah tentang proses hukum, sejarah hukum dipandang sebagai catatan mengenai evolusi hukum dan penjelasan teknis tentang bagaimana hukum-hukum ini berkembang dengan pandangan tentang pemahaman yang lebih baik mengenai asal-usul dari berbagai konsep hukum. Sebagian orang menganggapnya sebagai bagian dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah_intelektual&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Sejarah intelektual (halaman belum tersedia)"&gt;sejarah intelektual&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Para sejarawan abad ke-20 telah memandang sejarah hukum dalam cara yang lebih kontekstual, lebih sejalan dengan pemikiran &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sejarah_sosial&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Sejarah sosial (halaman belum tersedia)"&gt;para sejarawan sosial&lt;/a&gt;. Mereka meninjau lembaga-lembaga hukum sebagai sistem aturan, pelaku dan lambang yang kompleks, dan melihat unsur-unsur ini berinteraksi dengan masyarakat untuk mengubah, mengadaptasi, menolak atau memperkenalkan aspek-aspek tertentu dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat" title="Masyarakat"&gt;masyarakat sipil&lt;/a&gt;. Para sejarawan hukum seperti itu cenderung menganalisis sejarah kasus dari parameter penelitian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_sosial" title="Ilmu sosial"&gt;ilmu sosial&lt;/a&gt;, dengan menggunakan metode-metode statistik, menganalisis perbedaan kelas antara pihak-pihak yang mengadukan kasusnya, mereka yang mengajukan permohonan, dan para pelaku lainnya dalam berbagai proses hukum. Dengan menganalisis hasil-hasil kasus, biaya transaksi, jumlah kasus-kasus yang diselesaikan, mereka telah memulai analisis terhadap lembaga-lembaga hukum, praktik-praktik, prosedur dan amaran-amarannya yang memberikan kita gambaran yang lebih kompleks tentang hukum dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat" title="Masyarakat"&gt;masyarakat&lt;/a&gt; daripada yang dapat dicapai oleh studi tentang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yurisprudensi" title="Yurisprudensi"&gt;yurisprudensi&lt;/a&gt;, hukum dan aturan sipil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Filsafat_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Filsafat hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Filsafat hukum adalah cabang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat" title="Filsafat"&gt;filsafat&lt;/a&gt; yang membicarakan apa hakekat hukum itu, apa tujuannya, mengapa dia ada dan mengapa orang harus tunduk kepada hukum. Disamping menjawab pertanyaan masalah-masalah umum abstrak tersebut, filsafat hukum juga membahas soal-soal kongkret mengenai hubungan antara hukum dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Moral" title="Moral"&gt;moral&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Etika" title="Etika"&gt;etika&lt;/a&gt;) dan masalah keabsahan berbagai macam lembaga hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Filsafat adalah merupakan suatu renungan yang mendalam terhadap suatu objek untuk menumukan hakeket yang sebenarnya, bukan untuk mencari perpecahan dari suatu cabang ilmu, sehingga muncul cabang ilmu baru yang mempersulit kita dalam mencari suatu kebanaran dikarenakan suatu pertentangan sudut pandang. (w2n_11)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Sosiologi_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sosiologi hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sosiologi hukum adalah merupakan suatu disiplin ilmu dalam ilmu hukum yang baru mulai dikenal pada tahun 60-an. Kehadiran disiplin ilmu sosiologi hukum di Indonesia memberikan suatu pemahaman baru bagi masyarakat mengenai hukum yang selama ini hanya dilihat sebagai suatu sistem perundang-undangan atau yang biasanya disebut sebagai pemahaman hukum secara normatif. Lain halnya dengan pemahaman hukum secara normatif, sosiologi hukum adalah mengamati dan mencatat hukum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dan kemudian berusaha untuk menjelaskannya. Sosiologi Hukum sebagai ilmu terapan menjadikan Sosiologi sebagai subyek seperti fungsi sosiologi dalam penerapan hukum, pembangunan hukum, pembaharuan hukum, perubahan masyarakat dan perubahan hukum,dampak dan efektivitas hukum, kultur hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Institusi_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;a name="Hukum_Indonesia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Indonesia adalah negara yang menganut sistem hukum campuran dengan sistem hukum utama yaitu sistem hukum Eropa Kontinental. Selain sistem hukum Eropa Kontinental, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat dan sistem hukum agama, khususnya hukum (syariah) Islam. Uraian lebih lanjut ada pada bagian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Indonesia" title="Hukum Indonesia"&gt;Hukum Indonesia&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt; merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana, berbasis pada &lt;b&gt;hukum Eropa&lt;/b&gt; kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda (&lt;i&gt;Nederlandsch-Indie&lt;/i&gt;). &lt;b&gt;Hukum Agama&lt;/b&gt;, karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem &lt;b&gt;hukum Adat&lt;/b&gt;, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="" border="0" cellpadding="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0.75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum perdata Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Salah satu bidang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum" title="Hukum"&gt;hukum&lt;/a&gt; yang mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Subyek_hukum" title="Subyek hukum"&gt;subyek hukum&lt;/a&gt; dan hubungan antara subyek hukum. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_perdata" title="Hukum perdata"&gt;Hukum perdata&lt;/a&gt; disebut pula &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum" title="Hukum"&gt;hukum&lt;/a&gt; privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik. Jika hukum publik mengatur hal-hal yang berkaitan dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara" title="Negara"&gt;negara&lt;/a&gt; serta kepentingan umum (misalnya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Politik" title="Politik"&gt;politik&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilu" title="Pemilu"&gt;pemilu&lt;/a&gt; (hukum tata negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata usaha &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara" title="Negara"&gt;negara&lt;/a&gt;), kejahatan (hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan antara &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penduduk" title="Penduduk"&gt;penduduk&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Warga_negara" title="Warga negara"&gt;warga negara&lt;/a&gt; sehari-hari, seperti misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta benda, kegiatan usaha dan tindakan-tindakan yang bersifat perdata lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Ada beberapa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem" title="Sistem"&gt;sistem&lt;/a&gt; hukum yang berlaku di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dunia" title="Dunia"&gt;dunia&lt;/a&gt; dan perbedaan sistem hukum tersebut juga mempengaruhi bidang hukum perdata, antara lain sistem hukum &lt;i&gt;Anglo-Saxon&lt;/i&gt; (yaitu sistem hukum yang berlaku di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Inggris" title="Kerajaan Inggris"&gt;Kerajaan Inggris&lt;/a&gt; Raya dan negara-negara &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_persemakmuran" title="Negara persemakmuran"&gt;persemakmuran&lt;/a&gt; atau negara-negara yang terpengaruh oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris" title="Inggris"&gt;Inggris&lt;/a&gt;, misalnya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt;), sistem hukum Eropa kontinental, sistem hukum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komunis" title="Komunis"&gt;komunis&lt;/a&gt;, sistem &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Islam" title="Hukum Islam"&gt;hukum Islam&lt;/a&gt; dan sistem-sistem hukum lainnya. Hukum perdata di Indonesia didasarkan pada hukum perdata di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda" title="Belanda"&gt;Belanda&lt;/a&gt;, khususnya hukum perdata Belanda pada masa penjajahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Bahkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (dikenal KUHPer.) yang berlaku di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; tidak lain adalah terjemahan yang kurang tepat dari &lt;i&gt;Burgerlijk Wetboek&lt;/i&gt; (atau dikenal dengan BW)yang berlaku di kerajaan Belanda dan diberlakukan di Indonesia (dan wilayah jajahan Belanda) berdasarkan azas konkordansi. Untuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, BW diberlakukan mulai 1859. Hukum perdata Belanda sendiri disadur dari hukum perdata yang berlaku di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perancis" title="Perancis"&gt;Perancis&lt;/a&gt; dengan beberapa penyesuaian. Kitab undang-undang hukum perdata (disingkat KUHPer) terdiri dari empat bagian, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Buku I tentang      Orang; mengatur tentang hukum perseorangan dan hukum keluarga, yaitu hukum      yang mengatur status serta hak dan kewajiban yang dimiliki oleh subyek      hukum. Antara lain ketentuan mengenai timbulnya hak keperdataan seseorang,      kelahiran, kedewasaan, perkawinan, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga" title="Keluarga"&gt;keluarga&lt;/a&gt;,      perceraian dan hilangnya hak keperdataan. Khusus untuk bagian perkawinan,      sebagian ketentuan-ketentuannya telah dinyatakan tidak berlaku dengan di      undangkannya UU nomor 1 tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1974" title="1974"&gt;1974&lt;/a&gt; tentang perkawinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Buku II tentang      Kebendaan; mengatur tentang hukum benda, yaitu hukum yang mengatur hak dan      kewajiban yang dimiliki subyek hukum yang berkaitan dengan benda, antara      lain hak-hak kebendaan, waris dan penjaminan. Yang dimaksud dengan benda      meliputi (i) benda berwujud yang tidak bergerak (misalnya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah" title="Tanah"&gt;tanah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangunan" title="Bangunan"&gt;bangunan&lt;/a&gt;      dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapal" title="Kapal"&gt;kapal&lt;/a&gt;      dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berat" title="Berat"&gt;berat&lt;/a&gt;      tertentu); (ii) benda berwujud yang bergerak, yaitu benda berwujud lainnya      selain yang dianggap sebagai benda berwujud tidak bergerak; dan (iii)      benda tidak berwujud (misalnya hak tagih atau piutang). Khusus untuk bagian      tanah, sebagian ketentuan-ketentuannya telah dinyatakan tidak berlaku      dengan di undangkannya UU nomor 5 tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1960" title="1960"&gt;1960&lt;/a&gt; tentang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agraria&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Agraria (halaman belum tersedia)"&gt;agraria&lt;/a&gt;. Begitu pula bagian      mengenai penjaminan dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hipotik&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Hipotik (halaman belum tersedia)"&gt;hipotik&lt;/a&gt;, telah dinyatakan      tidak berlaku dengan di undangkannya UU tentang hak tanggungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Buku III tentang      Perikatan; mengatur tentang hukum perikatan (atau kadang disebut juga      perjanjian (walaupun istilah ini sesunguhnya mempunyai makna yang      berbeda)), yaitu hukum yang mengatur tentang hak dan kewajiban antara      subyek hukum di bidang perikatan, antara lain tentang jenis-jenis      perikatan (yang terdiri dari perikatan yang timbul dari (ditetapkan) &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-undang" title="Undang-undang"&gt;undang-undang&lt;/a&gt;      dan perikatan yang timbul dari adanya perjanjian), syarat-syarat dan tata      cara pembuatan suatu perjanjian. Khusus untuk bidang perdagangan, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kitab_Undang-undang_Hukum_Dagang&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kitab Undang-undang Hukum Dagang (halaman belum tersedia)"&gt;Kitab      undang-undang hukum dagang&lt;/a&gt; (KUHD) juga dipakai sebagai acuan. Isi KUHD      berkaitan erat dengan KUHPer, khususnya Buku III. Bisa dikatakan KUHD      adalah bagian khusus dari KUHPer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Buku IV tentang      Daluarsa dan Pembuktian; mengatur hak dan kewajiban subyek hukum      (khususnya batas atau tenggat waktu) dalam mempergunakan hak-haknya dalam      hukum perdata dan hal-hal yang berkaitan dengan pembuktian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sistematika yang ada pada KUHP tetap dipakai sebagai acuan oleh para ahli hukum dan masih diajarkan pada fakultas-fakultas hukum di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Hukum_pidana_Indonesia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum pidana Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Berdasarkan isinya, hukum dapat dibagi menjadi 2, yaitu hukum privat dan hukum publik (C.S.T Kansil).Hukum privat adalah hukum yg mengatur hubungan orang perorang, sedangkan hukum publik adalah hukum yg mengatur hubungan antara negara dengan warga negaranya. Hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Di Indonesia, pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kitab_undang-undang_hukum_pidana&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Kitab undang-undang hukum pidana (halaman belum tersedia)"&gt;kitab undang-undang hukum pidana&lt;/a&gt; (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan dengan UU nomor 8 tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1981" title="1981"&gt;1981&lt;/a&gt; tentang hukum acara pidana (KUHAP).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Hukum_tata_negara"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum tata negara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum tata negara adalah hukum yang mengatur tentang negara, yaitu antara lain dasar pendirian, struktur kelembagaan, pembentukan lembaga-lembaga negara, hubungan hukum (hak dan kewajiban) antar lembaga negara, wilayah dan warga negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Hukum_tata_usaha_.28administrasi.29_nega"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum tata usaha (administrasi) negara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum tata saha (administrasi) negara adalah hukum yang mengatur kegiatan administrasi negara. Yaitu hukum yang mengatur tata pelaksanaan pemerintah dalam menjalankan tugasnya . hukum administarasi negara memiliki kemiripan dengan hukum tata negara.kesamaanya terletak dalam hal kebijakan pemerintah ,sedangkan dalam hal perbedaan hukum tata negara lebih mengacu kepada fungsi konstitusi/hukum dasar yang digunakan oleh suatu negara dalam hal pengaturan kebijakan pemerintah,untuk hukum administrasi negara dimana negara dalam "keadaan yang bergerak". Hukm tata usaha negara juga sering disebut HTN dalam arti sempit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Hukum_acara_perdata_Indonesia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum acara perdata Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum acara perdata Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum perdata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Hukum_acara_pidana_Indonesia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum acara pidana Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum acara pidana Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum pidana. Hukum acara pidana di Indonesia diatur dalam UU nomor 8 tahun 1981.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Asas_dalam_hukum_acara_pidana"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Asas dalam hukum acara pidana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Asas didalam hukum acara pidana di Indonesia adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Asas perintah      tertulis, yaitu segala tindakan hukum hanya dapat dilakukan berdasarkan      perintah tertulis dari pejabat yang berwenang sesuai dengan UU.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Asas peradilan      cepat, sederhana, biaya ringan, jujur, dan tidak memihak, yaitu serangkaian      proses peradilan pidana (dari penyidikan sampai dengan putusan hakim)      dilakukan cepat, ringkas, jujur, dan adil (pasal 50 KUHAP).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Asas memperoleh      bantuan hukum, yaitu setiap orang punya kesempatan, bahkan wajib      memperoleh bantuan hukum guna pembelaan atas dirinya (pasal 54 KUHAP).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Asas terbuka,      yaitu pemeriksaan tindak pidana dilakukan secara terbuka untuk umum (pasal      64 KUHAP).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Asas pembuktian,      yaitu tersangka/terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian (pasal 66      KUHAP), kecuali diatur lain oleh UU.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Hukum_antar_tata_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum antar tata hukum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum antar tata hukum adalah hukum yang mengatur hubungan antara dua golongan atau lebih yang tunduk pada ketentuan hukum yang berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Hukum_adat_di_Indonesia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum adat di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adat" title="Adat"&gt;adat&lt;/a&gt; adalah seperangkat norma dan aturan adat yang berlaku di suatu wilayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Hukum_Islam_di_Indonesia"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hukum Islam di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Islam" title="Hukum Islam"&gt;Hukum Islam&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; belum bisa ditegakkan secara menyeluruh, karena akan bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia itu sendiri. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh" title="Aceh"&gt;Aceh&lt;/a&gt; merupakan satu-satunya provinsi yang banyak menerapkan hukum Islam melalui Pengadilan Agama, sesuai pasal 15 ayat 2 Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman yaitu : &lt;i&gt;Peradilan Syariah Islam di Provinsi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nanggroe_Aceh_Darrussalam&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Nanggroe Aceh Darrussalam (halaman belum tersedia)"&gt;Nanggroe Aceh Darrussalam&lt;/a&gt; merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan agama sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan agama, dan merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan umum&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Islam" title="Hukum Islam"&gt;Hukum Islam&lt;/a&gt; berasal dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Al_Quran" title="Al Quran"&gt;Al Quran&lt;/a&gt;, sedangkan hukum di Indonesia berasal dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila" title="Pancasila"&gt;Pancasila&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/UUD_1945" title="UUD 1945"&gt;UUD 1945&lt;/a&gt;. Dalam hukum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam" title="Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt;, ber&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zina" title="Zina"&gt;zina&lt;/a&gt; dihukum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rajam" title="Rajam"&gt;rajam&lt;/a&gt;, sedangkan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; berzina hukumannya adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penjara" title="Penjara"&gt;penjara&lt;/a&gt;, jadi dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Islam" title="Hukum Islam"&gt;hukum Islam&lt;/a&gt; tidak mengenal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penjara" title="Penjara"&gt;penjara&lt;/a&gt;, karena dalam penjara tidak ada penghapusan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dosa" title="Dosa"&gt;dosa&lt;/a&gt; sebagai ganti hukuman di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akhirat" title="Akhirat"&gt;akhirat&lt;/a&gt;. Apabila di dunia orang yang bersalah telah dihukum sesuai syariat Islam, maka di akhirat orang tersebut sudah tidak diproses lagi, karena telah diproses sesuai dengan ketentuan yang ada dalam kitab-Nya, Al Qur'an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Di dalam Al Quran surat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Al_Maidah&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Al Maidah (halaman belum tersedia)"&gt;5&lt;/a&gt;:44, &lt;i&gt;Barangsiapa yang memutuskan sesuatu tidak dengan yang Allah turunkan, maka termasuk orang yang kafir". Demikian juga dalam ayat 45, dan 47. Jadi umat Islam harus menegakkan hukum syariat Islam secara keseluruhan, karena Allah telah memerintahkan agar ummat-Nya masuk Islam secara keseluruhan (QS 2:208).&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Istilah_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Istilah hukum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Advokat"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Advokat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Sejak berlakunya UU nomor 18 tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2003" title="2003"&gt;2003&lt;/a&gt; tentang advokat, sebutan bagi seseorang yang berprofesi memberikan bantuan hukum secara swasta - yang semula terdiri dari berbagai sebutan, seperti advokat, pengacara, konsultan hukum, penasihat hukum - adalah advokat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Advokat_dan_pengacara"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Advokat dan pengacara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Kedua istilah ini sebenarnya bermakna sama, walaupun ada beberapa pendapat yang menyatakan berbeda. Sebelum berlakunya UU nomor 18 tahun 2003, istilah untuk pembela keadilan plat hitam ini sangat beragam, mulai dari istilah pengacara, penasihat hukum, konsultan hukum, advokat dan lainnya. Pengacara sesuai dengan kata-kata secara harfiah dapat diartikan sebagai orang yang beracara, yang berarti individu, baik yang tergabung dalam suatu kantor secara bersama-sama atau secara individual yang menjalankan profesi sebagai penegak hukum plat hitam di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengadilan" title="Pengadilan"&gt;pengadilan&lt;/a&gt;. Sementara advokat dapat bergerak dalam pengadilan, maupun bertindak sebagai konsultan dalam masalah hukum, baik pidana maupun perdata. Sejak diundangkannya UU nomor 18 tahun 2003, maka istilah-istilah tersebut distandarisasi menjadi advokat saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dahulu yang membedakan keduanya yaitu &lt;b&gt;Advokat&lt;/b&gt; adalah seseorang yang memegang izin ber"acara" di Pengadilan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman serta mempunyai wilayah untuk "beracara" di seluruh wilayah Republik Indonesia sedangkan &lt;b&gt;Pengacara Praktek&lt;/b&gt; adalah seseorang yang memegang izin praktek / beracara berdasarkan Surat Keputusan Pengadilan Tinggi setempat dimana wilayah beracaranya adalah "hanya" diwilayah Pengadilan Tinggi yang mengeluarkan izin praktek tersebut. Setelah UU No. 18 th 2003 berlaku maka yang berwenang untuk mengangkat seseorang menjadi Advokat adalah Organisasi Advokat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Konsultan_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Konsultan hukum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Konsultan hukum atau dalam bahasa Inggris &lt;i&gt;counselor at law&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;legal consultant&lt;/i&gt; adalah orang yang berprofesi memberikan pelayanan jasa hukum dalam bentuk konsultasi, dalam sistem hukum yang berlaku di negara masing-masing. Untuk di Indonesia, sejak UU nomor 18 tahun 2003 berlaku, semua istilah mengenai konsultan hukum, pengacara, penasihat hukum dan lainnya yang berada dalam ruang lingkup pemberian jasa hukum telah distandarisasi menjadi advokat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name="Jaksa_dan_polisi"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h3 style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Jaksa dan polisi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dua institusi publik yang berperan aktif dalam menegakkan hukum publik di Indonesia adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kejaksaan" title="Kejaksaan"&gt;kejaksaan&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polisi" title="Polisi"&gt;kepolisian&lt;/a&gt;. Kepolisian atau polisi berperan untuk menerima, menyelidiki, menyidik suatu tindak pidana yang terjadi dalam ruang lingkup wilayahnya. Apabila ditemukan unsur-unsur tindak &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pidana" title="Pidana"&gt;pidana&lt;/a&gt;, baik khusus maupun umum, atau tertentu, maka pelaku (tersangka) akan diminta keterangan, dan apabila perlu akan ditahan. Dalam masa penahanan, tersangka akan diminta keterangannya mengenai tindak pidana yang diduga terjadi. Selain tersangka, maka polisi juga memeriksa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Saksi" title="Saksi"&gt;saksi-saksi&lt;/a&gt; dan alat bukti yang berhubungan erat dengan tindak pidana yang disangkakan. Keterangan tersebut terhimpun dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berita_acara_pemeriksaan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Berita acara pemeriksaan (halaman belum tersedia)"&gt;berita acara pemeriksaan&lt;/a&gt; (BAP) yang apabila dinyatakan P21 atau lengkap, akan dikirimkan ke kejaksaan untuk dipersiapkan masa persidangannya di pengadilan. Kejaksaan akan menjalankan fungsi pengecekan BAP dan analisa bukti-bukti serta saksi untuk diajukan ke pengadilan. Apabila kejaksaan berpendapat bahwa bukti atau saksi kurang mendukung, maka kejaksaan akan mengembalikan berkas tersebut ke kepolisian, untuk dilengkapi. Setelah lengkap, maka kejaksaan akan melakukan proses penuntutan perkara. Pada tahap ini, pelaku (tersangka) telah berubah statusnya menjadi terdakwa, yang akan disidang dalam pengadilan. Apabila telah dijatuhkan putusan, maka status terdakwa berubah menjadi terpidana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-519979082236247557?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/519979082236247557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=519979082236247557&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/519979082236247557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/519979082236247557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2009/03/mengenal-ilmu-hukum.html' title='Mengenal Ilmu Hukum'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-UvuNfT0_tAo/TuoJJzZqWBI/AAAAAAAAALA/Gu7deXuOt1o/s72-c/timbangan-300x270.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-5948416533350210203</id><published>2009-03-23T05:46:00.002+07:00</published><updated>2011-12-15T21:51:46.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><title type='text'>Kebudayaan dan Teknologi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-eSK9VF9XEC8/TuoJbmM8yeI/AAAAAAAAALM/1aWWHfYFMlw/s1600/budaya2.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="108" width="142" src="http://3.bp.blogspot.com/-eSK9VF9XEC8/TuoJbmM8yeI/AAAAAAAAALM/1aWWHfYFMlw/s320/budaya2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Koentjaraningrat, teknologi merupakan salah satu faset dari 7 (tujuh) faset kebudayaan. Dalam pertemuan ini akan dibicarakan tentang pengertian, wujud, dan faset kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya atau kebudayaan berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan atau dihasilkan dari budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Bahasa Latin colere, yang artinya mengolah atau mengerjakan. Dalam hal ini kebudayaan diartikan sebagai usaha mengolah tanah atau bertani. Culture sering diterjemahkan dengan "kultur" dalam bahasa Indonesia (www.id.wikipedia.org). Misalnya monokultur artinya pertanian dengan satu macam jenis tanaman. Sebaliknya, polikultur artinya pertanian dengan beberapa macam tanaman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli antropologi telah melahirkan beberapa definisi kebudayaan, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. B. Tylor (1871) mendefinisikan kebudayaan sebagai “that complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society” atau kebudayaan merupakan satu keseluruhan yang kompleks, termasuk di dalamnya pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, kebiasaan, dan banyak kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki manusia sebagai warga masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E Adamson Hoebel, dalam bukunya An Anthropology: The Study of Man, menyatakan bahwa:&lt;br /&gt;“The integrated system of learned behavior pattern which are characteristic of the members of a society and which are not the result of biological inheritance ….culture is not noninstinctive … [culture] is wholly the result of social invention and is transmitted and maintatined solely through community communication and learning”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan sangat erat kaitanyya dengan masyarakat (society). Kebudayaan adalah produk dari masyarakat. Masyarakat telah melahirkan kebudayaannya sendiri, yang unik, yang berbeda dari kebudayaan yang telah dihasilkan kelompok masyarakat lain. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun yang telah dilahirkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Andreas Eppink menjelaskan bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, yang meliputi tata nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, yang merupakan keseluruhan kristaliasasi intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas utama suatu masyarakat (www.id.wipedia.org).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, setiap masyarakat akan melahirkan satu ciri kebudayaan yang unik, yang berbeda dengan kebudayaan yang lahir dari masyarakat di daerh yang lain. Keunikan tersebut menjadi karakteristik kebudayaan tertentu, dan menjadi esensi pembeda dengan kebudayaan lannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:  (1) alat-alat teknologi, (2) sistem ekonomi, (3) keluarga, dan (4) kekuasaan politik.&lt;br /&gt;Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi: (1) sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya, (2) organisasi ekonomi, (3) alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama), dan (4) organisasi kekuatan (politik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Koentjoroningrat menyebutkan adanya 7 (tujuh) unsur kebudayaan, atau yang disebut sebagai faset-faset kebudayaan atau “mata bajak” kebudayaan, yakni: (1) sistem kepercayaan, (2) sistem kekerabatan dan organisasi sosial, (3) sistem mata pencarian hidup, (4) bahasa, (5) sistem ilmu pengetahuan, (4) kesenian, dan (7) peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-5948416533350210203?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/5948416533350210203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=5948416533350210203&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/5948416533350210203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/5948416533350210203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2009/03/kebudayaan-dan-teknologi.html' title='Kebudayaan dan Teknologi'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-eSK9VF9XEC8/TuoJbmM8yeI/AAAAAAAAALM/1aWWHfYFMlw/s72-c/budaya2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-416618014073840554</id><published>2008-12-29T22:51:00.005+07:00</published><updated>2011-12-15T21:53:04.215+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Antara Jazz dan Kecerdasan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-32G7hH3jI2o/TuoJvoP4w7I/AAAAAAAAALY/xRfUxBbmrP8/s1600/jazz.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="81" width="135" src="http://3.bp.blogspot.com/-32G7hH3jI2o/TuoJvoP4w7I/AAAAAAAAALY/xRfUxBbmrP8/s320/jazz.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Musik adalah bahasa yang paling universal, artinya tidak dapat dibatasi oleh batas wilayah suatu negara, tidak dapat dibatasi oleh perbedaan suku, ras, bangsa, maupun agama serta perbedaan-perbedaan lainnya, karena musik adalah milik semua orang, sehingga siapapun dapat memiliki dan menikmatinya. Apabila perlu dibatasi, bukanlah musiknya itu sendiri, tetapi adalah prilaku musisi dan penikmatnya yang harus berdasarkan pada etika, moral, dan adat istiadat yang dapat diterima di suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Al-Gazali dalam bukunya Ihya-Ulumiddin menyatakan "Barang siapa yang tidak tersentuh hatinya mendengar suara dentingan musik, maka dia telah rusak keseimbangan jiwanya ". Hal ini mengandung pengertian bahwa musik bukanlah sekedar untuk bersenang-senang belaka, tetapi musik juga merupakan kebutuhan primer rohani manusia selain dari ilmu dan agama. Jika ilmu berfungsi untuk membangun akal yang cerdas dan agama berfungsi untuk membangun akhlak yang baik, maka musik berfungsi untuk membangun rasa yang halus dalam rangka mencintai dan menyayangi segala ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berdasarkan beberapa literatur ilmiah populer dari hasil kajian-kajian ilmiah, terdapat 3 (tiga) jenis musik yang di kategorikan sangat baik untuk perkembangan otak kanan manusia, yaitu musik klasik, musik jazz, dan musik tradisional. Bahkan dinegara-negara maju, ketiga jenis musik ini digunakan sebagai media teraphy untuk memacu dan menstimulus serta meningkatkan kegiatan otak dalam kemampuan belajar. Media yang diambil dari musik klasik disebut Mozart Teraphy, media yang diambil dari musik jazz disebut Jazz Teraphy, media yang diambil dari musik tradisional disebut Etnic Teraphy. Hasil ketiga jenis teraphy tersebut memiliki signifikansi yang tinggi dalam membantu para pelajar dan mahasiswa dalam meningkatkan konsentrasi dan kemampuan belajar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut sejarahnya, musik jazz adalah musik yang berasal dari budak-budak belian berkulit hitam asal Afrika (Negro). Pergumulan nasib orang-orang negro di Amerika Serikat yang malang tersebut menghasilkan musik baru dan khas. Melalui ratapan dan tangisan, mereka merindukan datangnya kebebasan atau sekedar mencoba melupakan kesengsaraannya dengan berbuat riang. Musik yang mereka ciptakan menjadi sangat penting pada awal abad keduapuluh karena menjadi musik nomor satu dan disenangi oleh segala lapisan masyarakat tanpa membedakan status sosial dan warna kulit masing-masing orang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa tokoh musik jazz yang menentukan perkembangan janis musik ini, diantaranya adalah Paul Whiteman, Billy Holiday, Louis Amstrong, Duke Elington, Chris Barber dan lain-lainnya. Sedangkan musik jazz di Indonesia disinyalir mulai berkembang ketika Wage Rudolf Supratman mendirikan group Band Jazz yang bernama Black and White pada tahun 1920 di Ujung Pandang yang personilnya gabungan antara orang Belanda dengan orang pribumi. Periode selanjutnya kita mengenal tokoh -tokoh musik jazz seperti Jack Lesmana, Ireng Maulana, Embong Raharjo sampai pada yang lebih muda seperti Indra Lesmana, Luluk Purwanto dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Musik Jazz memiliki jenis irama yang beragam seperti Dixiland, New Orleans, Be-bop, Soul, Swing, Ragtime, Fusion dan lain-lainnya. Masing-masing jenis warna memiliki ciri khas dan karakter yang berbeda yang menjadi khasanah musisi dalam berkarya cipta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-416618014073840554?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/416618014073840554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=416618014073840554&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/416618014073840554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/416618014073840554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2008/12/antara-jazz-dan-kecerdasan.html' title='Antara Jazz dan Kecerdasan'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-32G7hH3jI2o/TuoJvoP4w7I/AAAAAAAAALY/xRfUxBbmrP8/s72-c/jazz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-5813747969182911776</id><published>2008-05-18T15:32:00.008+07:00</published><updated>2011-12-16T19:36:48.027+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><title type='text'>Multimedia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-R89TUuQBQes/TuoK1PAeqOI/AAAAAAAAALw/mCQDsX14PMo/s1600/IT1.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="121" width="116" src="http://3.bp.blogspot.com/-R89TUuQBQes/TuoK1PAeqOI/AAAAAAAAALw/mCQDsX14PMo/s320/IT1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Multimedia adalah penggunaan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;komputer&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt; untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat bernavigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;hiburan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;. Selain dari dunia hiburan, Multimedia juga diadopsi oleh dunia &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Game&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;Multimedia dimanfaatkan juga dalam dunia &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;pendidikan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;bisnis&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;. Di dunia &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;pendidikan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;, multimedia digunakan sebagai media pembelajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri. Di dunia &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;bisnis&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;, multimedia digunakan sebagai media profil &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;perusahaan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;, profil produk, bahkan sebagai media &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;pelatihan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt; dalam sistem e-learning.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;Masih banyak orang yang bingung dengan istilah multimedia. Pada awalnya istilah multimedia digunakan untuk presentasi atau pembelajaran yang dapat ditampilkan dalam banyak media dan dalam berbagai cara. Dan sekarang, sejalan dengan berkembangnya teknologi, media-media untuk menampilkan informasi sudah bertambah banyak seperti website, handphone, pda, plasma tv dan laser performence. Ini yang kadang membuat rancu atau bingung sebagian orang sehingga sepertinya istilah multimedia harus dibagi kembali dalam berbagai kategori. Karena kalau dilihat sekarang, semuanya adalah multimedia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;Yang perlu disadari dan dipahami bahwa seseorang tidak cukup hanya dengan kemampuan teknis atau penguasaan software semata untuk terjun ke dalam bidang multimedia. Tetapi juga dituntut kepedulian terhadap lingkungan agar teknologi tersebut dapat berkomunikasi dan mendidik masyarakat. Bila penguasaan teknologi tidak disertai dengan kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan, maka yang akan terjadi adalah teknologi tersebut akan digunakan untuk menghancurkan sebuah peradaban manusia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;Penggunaan multimedia seperti televisi, radio, handphone dan website kini sangat dekat dengan masyarakat. Kita bisa melihat sendiri, informasi yang ditampilkan kepada masyarakat seperti apa. Apakah membuat masyarakat menjadi pintar, sadar, produktif? Atau malah membuat masyarakat tersebut menjadi bodoh, konsumtif?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-5813747969182911776?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/5813747969182911776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=5813747969182911776&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/5813747969182911776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/5813747969182911776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2008/05/multimedia.html' title='Multimedia'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-R89TUuQBQes/TuoK1PAeqOI/AAAAAAAAALw/mCQDsX14PMo/s72-c/IT1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-329411308341883962.post-6022710177767996898</id><published>2008-05-18T09:08:00.008+07:00</published><updated>2011-12-15T21:54:22.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Prinsip-prinsip Dasar Kreatifitas</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-1i9udOn1nZE/TuoKC5fWxJI/AAAAAAAAALk/eGHPiZuuCx4/s1600/kreatif2.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="129" width="93" src="http://2.bp.blogspot.com/-1i9udOn1nZE/TuoKC5fWxJI/AAAAAAAAALk/eGHPiZuuCx4/s320/kreatif2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;• &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;Hidup adalah energi kreatif yang murni&lt;br /&gt;• Daya kreatif yang mendasari dan memenuhi segenap kehidupan – termasuk &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;diri kita&lt;br /&gt;• Membuka diri terhadap kreatifitas kita, membuka diri terhadap Sang &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;Pencipta&lt;br /&gt;• Diri kita adalah hasil ciptaan. Kita melanjutkan kreatifitas dengan menjadi &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;font-size:78%;"  &gt;kreatif&lt;br /&gt;• Menggunakan kreatifitas adalah balasan kita atas anugrah-Nya&lt;br /&gt;• Menolak menjadi kreatif adalah nafsu egois dan bertentangan dengan kodrat kita&lt;br /&gt;• Kita membuka diri untuk mengeksplorasi kreatifitas, kita membuka diri terhadap Tuhan&lt;br /&gt;• Kita membuka saluran kreatifitas, banyak perubahan amat kuat pasti terjadi&lt;br /&gt;• Membuka diri terhadap kreatifitas yang lebih besar dan lebih hebat&lt;br /&gt;• Impian dan hasrat kreatif kita datang dari sumber Ilahi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/329411308341883962-6022710177767996898?l=sundu-sundu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/feeds/6022710177767996898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=329411308341883962&amp;postID=6022710177767996898&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/6022710177767996898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/329411308341883962/posts/default/6022710177767996898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sundu-sundu.blogspot.com/2008/05/prinsip-prinsip-dasar-kreatifitas.html' title='Prinsip-prinsip Dasar Kreatifitas'/><author><name>Sundu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07420786151459538419</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-jnKyNwx75QE/TuoPiVV4J9I/AAAAAAAAAL8/bs2YYM9YdFs/s220/sundu-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-1i9udOn1nZE/TuoKC5fWxJI/AAAAAAAAALk/eGHPiZuuCx4/s72-c/kreatif2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
